Pengelola Rumah Luruskan Isu Miring: Upaya Evakuasi Sutrimo Murni Karena Empati

Jakarta – Pengelola rumah tempat Sutrimo tinggal memberikan klarifikasi terkait berbagai informasi yang berkembang di media sosial setelah pria tersebut meninggal dunia. Pihak pengelola menegaskan bahwa proses evakuasi terhadap Sutrimo dilakukan semata-mata sebagai bentuk kepedulian dan upaya memberikan pertolongan saat kondisi korban memburuk.

Sebelumnya, kabar mengenai kematian Sutrimo berkembang dengan berbagai spekulasi, termasuk dugaan adanya tindak pidana hingga narasi bernuansa mistis. Pihak pengelola menilai informasi tersebut telah menimbulkan kesimpangsiuran di tengah masyarakat.

Melalui perawat yang bertugas di rumah tersebut, pihak pengelola menjelaskan bahwa Sutrimo sudah tidak lagi berstatus sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) aktif di kediaman FA sejak 2024. Ia sebelumnya sempat berhenti bekerja karena alasan kesehatan.

Setelah kembali meminta pekerjaan, Sutrimo kemudian tinggal seorang diri di sebuah bangunan bekas klinik kecantikan di kawasan Kramat Pela. Aktivitasnya sehari-hari hanya menjaga dan merawat bangunan tersebut.

Pihak pengelola juga menegaskan bahwa sejak kembali ke Jakarta, Sutrimo tidak tinggal maupun beraktivitas di rumah kediaman FA. Ia memegang sendiri kunci bangunan tempat tinggalnya dan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Peristiwa bermula pada dini hari ketika kondisi kesehatan Sutrimo tiba-tiba menurun. Sekitar pukul 01.00 WIB, ia masih sempat keluar menggunakan sepeda motor untuk membeli makanan berupa pecel lele atau ayam.

Sutrimo juga disebut sempat mengonsumsi beberapa gelas kopi dan suplemen vitamin C dosis tinggi. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang lemas sebelum akhirnya beristirahat.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Sutrimo kemudian menghubungi Arif melalui telepon. Dalam percakapan tersebut, Sutrimo mengeluhkan kondisinya yang sangat lemas dan membutuhkan pertolongan.

Mendapatkan informasi tersebut, Arif segera menuju lokasi. Namun, setibanya di sana, pagar dalam keadaan terkunci dari dalam. Karena khawatir melihat kondisi Sutrimo yang berada di balik pintu kaca, Arif kemudian memanjat pagar untuk memberikan pertolongan.

Setelah berhasil masuk, Sutrimo ditemukan dalam kondisi kritis. Arif dan pihak lainnya kemudian segera menghubungi ambulans untuk mengevakuasi Sutrimo ke Rumah Sakit Muhammadiyah guna mendapatkan penanganan medis.

Pihak pengelola menegaskan, seluruh tindakan yang dilakukan saat itu merupakan respons spontan untuk menyelamatkan nyawa Sutrimo.

“Tindakan teman-teman di lapangan murni karena empati dan kepedulian antar-sesama pekerja. Tidak ada niat jahat, apalagi unsur pidana. Mereka hanya ingin menyelamatkan almarhum,” ujar pihak pengelola melalui perawat rumah.

Berdasarkan pemeriksaan awal kepolisian yang disampaikan pihak terkait, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh Sutrimo. Kendati demikian, penyebab pasti kematian tetap menjadi bagian dari proses pemeriksaan lebih lanjut.

Pihak keluarga dan pengelola menyatakan menyerahkan sepenuhnya proses medis maupun hukum kepada aparat yang berwenang. Mereka berharap klarifikasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kronologi kejadian sekaligus meluruskan informasi yang berkembang tanpa dasar kepastian.

Pihak pengelola juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan suatu peristiwa ataupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terlebih menyangkut kematian seseorang. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *