Optimasi Tumbuh Kembang Anak di Remote Area: Seminar di Ternate Hadirkan Prof Hardiono dengan 3 Pilar ILAE 2025 & Tatalaksana Status Epileptikus

Ternate – Sebuah seminar ilmiah nasional bertajuk “Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak di Remote Area: Deteksi dan Tatalaksana” resmi digelar di Gamalam Badrom Hotel Bella Ternate, Provinsi Maluku Utara, pada hari Sabtu, 2 Mei 2026.

Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan dokter spesialis anak, dokter umum, dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah timur Indonesia ini menghadirkan pakar neurologi anak terkemuka, Prof. dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) , sebagai pembicara utama.

Pesan Kunci: Jangan Menebak-Nebak dalam Tata Laksana Status Epileptikus

Dalam pemaparannya, Prof. Hardiono menekankan pentingnya ketepatan dosis obat pada penanganan Status Epileptikus (kejang >5 menit atau kejang berulang tanpa sadar sempurna) pada anak, terutama di daerah dengan akses terbatas (remote area).

Beliau menyampaikan alur tatalaksana bertahap berikut:

Fase Terapi & Dosis (Rute)
0–5 menit Diazepam IV 0,15–0,2 mg/kg / rektal 0,5 mg/kg; atau Midazolam intrabukal 0,3 mg/kg / IM 0,2 mg/kg; atau Lorazepam IV 0,05–0,1 mg/kg
5–20 menit Fenitoin 20 mg/kg IV (kecepatan ≤1 mg/kg/menit, pantau EKG)
20–40 menit (refrakter) Midazolam kontinu / Propofol / Thiopental di ruang ICU

“Kalau tidak tahu, bilang tidak tahu. Jangan menebak-nebak,” tegas Prof. Hardiono di hadapan peserta.
Pernyataan ini menjadi pengingat etika klinis agar tenaga medis tidak meraba dosis atau diagnosis, khususnya ketika menghadapi kasus kejang pada anak di daerah terpencil.

Definisi Epilepsi dan 3 Pilar ILAE 2025

Prof. Hardiono juga menjelaskan bahwa epilepsi ditegakkan jika terjadi ≥2 kejang tanpa provokasi dengan jarak >24 jam. Contoh: kejang hari Senin dan kejang lagi hari Sabtu (jarak 5 hari) → memenuhi kriteria epilepsi.

Beliau memaparkan 3 Pilar Klasifikasi ILAE 2025 yang wajib dipahami:

1. Pilar 1 – Semiologi : Jenis onset kejang (fokal, generalisata, unknown)
2. Pilar 2 – Tipe Epilepsi : Fokal, generalisata, atau kombinasi
3. Pilar 3 – Sindrom Epilepsi : Usia onset, pola EEG, prognosis (Sindrom West, Lennox-Gastaut, Dravet, dll.)

Pendekatan tiga pilar ini memungkinkan diagnosis yang lebih akurat dan terapi personalisasi, bahkan dengan keterbatasan fasilitas.

Optimasi Tumbuh Kembang Anak di Remote Area

Seminar ini tidak hanya membahas epilepsi, tetapi juga deteksi dini dan tatalaksana gangguan tumbuh kembang anak di daerah terpencil. Para peserta dibekali dengan skrining sederhana, intervensi gizi, stimulasi perkembangan, serta strategi rujukan efektif mengingat keterbatasan akses ke rumah sakit tipe A.

Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerataan kualitas layanan kesehatan anak di Indonesia Timur.

Seminar berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan diskusi kasus. Prof. Hardiono menutup materinya dengan pesan:

“Kesalahan tebakan dalam neurologi anak bisa berakibat fatal. Lebih baik bilang tidak tahu, lalu cari tahu, daripada mencelakakan pasien.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *